Jakarta, CNN Indonesia --
Polisi belum bisa memastikan soal kondisi kapal cepat (speedboat) Arupadhatu 1 yang membawa rombongan 5 jurnalis setelah penemuan jasad Surakman.
Diketahui, Surakman merupakan warga Carita, Pandeglang, Banten yang menjadi kru kapal yang digunakan rombongan tersebut.
"Kapal itu tenggelam, terbakar, hilang dan sebagainya saya tidak menjawab itu, yang pasti dari sampai dengan sekarang Arupadhatu 1 kapalnya kan tidak ada yang ditemukan," kata Kapolda Banten Irjen Hengki dalam konferensi pers, Rabu (23/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belum ada kejelasan kapal itu ke mana. Apakah terbawa arus atau terendam, tenggelam ke dalam dasar laut, saya tidak menjawab itu," sambungnya.
Hengki juga belum bisa memberikan kepastian ihwal kondisi ketujuh orang lainnya yang ada di dalam rombongan tersebut.
"Kedua bagaimana korban-korban yang lain? Saya belum bisa menjawab kalau korban-korban yang lain atau yang belum ditemukan. Ternyata mereka mungkin selamat, mungkin terbawa ke luar negeri, saya tidak tahu dan tidak saya jawab itu," ujarnya.
Sebelumnya operasi SAR besar-besaran terhadap 5 jurnalis dan 3 awak kapal yang hilang di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, resmi dihentikan pada Kamis (17/9). Lima jurnalis itu menaiki kapal Arupadhatu untuk meliput Gunung Anak Krakatau (GAK) yang erupsi.
Kapal itu hilang kontak di Selat Sunda setelah berangkat dari dermaga di Carita, Pandeglang, Senin (7/9). Selama 10 hari masa pencarian, tidak ada temuan yang mengarah terhadap penumpang kapal Arupadhatu 1.
Proses pencarian selama 10 hari ini melibatkan Basarnas Banten, Lampung hingga Bengkulu. Namun, tidak ditemukan tanda-tanda adanya kapal cepat Arupadhatu 1 maupun delapan penumpangnya.
Setelah operasi SAR ditutup, keluarga jurnalis dan awak kapal Speed Boat Arupadhatu 1 yang hilang kontak melaksanakan tabur bunga di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, pada Jumat (18/9).
(dis/dal)

4 hours ago
4















































