Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama hari ini akan menggelar sidang isbat untuk penetapan awal Ramadan 1447 H, di Kantor Kemenag RI, Jalan MH. Thamrin, Jakarta, Selasa (17/2) petang ini.
Melalui sidang isbat tersebut, Kemenag akan menetapkan waktu umat muslim Indonesia mulai menjalankan ibadah puasa Ramadan tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sidang isbat itu dilakoni berdasarkan pengamatan bulan awal/sabit tipis atau rukyatul hilal di sejumlah titik Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Rapat diawali pemaparan data dari tim hisab dan rukyat Kemenag tentang posisi hilal pada Selasa petang.
Lantas, selepas salat Magrib berjemaah di lokasi, akan diambil keputusan bersama soal penetapan awal Ramadan 1447 hijriah dalam sidang tertutup. Setelahnya keputusan itu akan disampaikan dalam konferensi pers bersama.
Sidang dan konferensi pers akan dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar. Sidang itu juga dihadiri Wakil Menteri Agama, pimpinan Komisi VIII DPR RI, Ketua MUI, Tim Hisab Rukyat Kemenag, perwakilan ormas Islam, serta duta besar negara sahabat.
BRIN
Sebelumnya beberapa waktu lalu, Peneliti BRIN memprediksi awal puasa tahun ini di Indonesia berpeluang jatuh pada tanggal berbeda tergantung kriteria pemantauan hilal yang digunakan, yakni antara 18 atau 19 Februari 2026.
Koordinator Kelompok Riset Astronomi dan Observatorium Pusat Riset Antariksa BRIN, Prof Thomas Djamaluddin menerangkan sumber perbedaan itu bukan karena data astronomi yang berbeda, tetapi kriteria yang digunakan dalam penghitungan posisi bulan.
Thomas menjelaskan, mayoritas ormas Islam dan pemerintah Indonesia menggunakan pendekatan hilal lokal, yaitu mensyaratkan visibilitas hilal di wilayah Indonesia.
Ia menjelaskan posisi hilal saat waktu magrib atau matahari terbenam 17 Februari belum memenuhi kriteria Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) yang digunakan pemerintah untuk menentukan awal bulan hijriah.
Ketika waktu tersebut, katanya, posisi hilal belum memenuhi tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
"Fakta Astronomi pada saat maghrib 17 Februari 2026 di wilayah Asia Tenggara, posisi hilal belum memenuhi kriteria MABIMS, kriteria yang digunakan oleh pemerintah dan sebagian besar ormas Islam, yaitu kurva kuning, ini tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat geosentrik. Ini di wilayah Amerika, sehingga di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, belum memenuhi kriteria," kata Thomas dalam video di kanal Youtube-nya beberapa waktu lalu.
Meski demikian, Thomas menyebut ada juga ormas Islam yang menggunakan kriteria Turki. Pada saat tersebut, di wilayah Amerika, sudah terpenuhi tinggi minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat
Di wilayah Alaska, kata Thomas, posisi hilal sudah memenuhi kriteria menurut kriteria Turki. Dengan demikian, 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh tanggal 18 Februari 2026.
"Jadi, ada potensi perbedaan Awal Ramadan, ada yang 19 Februari, dan ada yang 18 Februari," katanya.
Nahdlatul Ulama
Serupa pamerintah, Nahdlatul Ulama (NU) menunggu hasil rukyatul hilal jelang akhir Syaban untuk menentukan awal Ramadan. Sidangnya digelar terpisah dengan pemerintah, yakni di kantor PBNU yang berada di Jakarta Pusat.
Dengan adanya kemungkinan perbedaan 1 Ramadan pada tahun ini, sebelumnya, pemerintah mengimbau menghormati perbedaan metode yang digunakan masing-masing pihak.
Muhammadiyah
Sementara itu, Muhammadiyah telah menentukan 1 Ramadan akan jatuh pada Rabu (18/2) besok. Hal itu disampaikan dalam maklumat resmi Muhammadiyah. Penetapan tersebut didasarkan pada hisab hakiki dengan acuan Kalender Hijriah Global Tunggal yang digunakan internal Muhammadiyah.
(kid)

2 hours ago
3

















































