Jakarta, CNN Indonesia --
Masyarakat mulai memburu masker menyusul abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang menyebar ke sejumlah daerah, di antaranya adalah Jakarta.
Sejumlah warga menyerbu pedagang masker di kawasan kolong tol Andara, Pondok Labu, Jakarta Selatan, pada Minggu (6/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diberitakan detikcom pada Minggu (6/9), lapak pedagang masker dikerumuni warga. Warga pun memborong masker, setidaknya mereka membeli dua kotak dengan isi 50 potong per kotak.
Ada pula warga yang membeli masker bungkusan isi 10 potong, mencari masker untuk anak yang lebih kecil, serta memburu masker untuk pengguna hijab.
Warga Lebak Bulus II, Dian dan Supri, sengaja membeli masker lantaran situasi terkini abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau di Jakarta. Mereka menambah stok untuk antisipasi sebaran abu vulkanik berlangsung lama.
"Kalau beli masker sih saya emang biasa beli, cuma kan kali ini pas ada abu ya, Bu, ya? Beli lagi," kata Supri.
"Kata dia [pedagang] barangnya nanti sore datang. Yang biasa saya beli kan biasanya murah, yang kayak gini cuma Rp8 ribu, tapi barangnya habis," kata Dian.
Selain itu, ada Reino warga Andara yang mengatakan kondisi udara buruk imbas abu vulkanik ini mendorongnya membeli masker. Reino mengaku sempat kaget karena sejak pagi kondisi rumahnya dipenuhi abu vulkanik.
"Sebetulnya memang sekali-sekali memang saya mempersiapkan masker selalu di rumah. Karena memang kondisi udara kita juga kurang baik kan," kata Reino.
"Panasnya luar biasa dan segala macam, terus ya banyak virus dan penyakit tentunya, sehingga efektif sekali kalau kita tetap menyediakan masker," katanya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, mengimbau warga untuk waspada terhadap dampak abu vulkanik.
Meski begitu, Marulitua menjabarkan sejumlah langkah bisa dilakukan warga DKI dalam menghadapi hujan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang kini sudah mulai menyelimuti wilayah Jakarta.
Pertama adalah menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Masker kain biasa kurang optimal untuk menyaring partikel abu vulkanik.
Kedua, menutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah. Warga juga disarankan mematikan kipas atau pendingin ruangan yang menarik udara dari luar apabila kondisi udara di sekitar rumah terdampak abu.
Ketiga adalah mengurangi aktivitas di luar rumah, khususnya bagi bayi, anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta warga dengan asma, penyakit paru, atau penyakit jantung.
Kemudian apabila terdapat abu di sekitar rumah, warga diminta membasahinya terlebih dahulu sebelum membersihkan. Abu sebaiknya tidak disapu dalam kondisi kering karena dapat membuat partikelnya kembali beterbangan dan terhirup.
Kelima, menutup tempat penyimpanan air dan makanan. Air atau makanan yang terpapar abu vulkanik sebaiknya tidak dikonsumsi.
Keenam, untuk warga yang mengalami sesak napas berat, nyeri dada, batuk terus-menerus, atau iritasi mata yang semakin parah diminta segera mendapatkan pertolongan di fasilitas kesehatan.
Ketujuh, hubungi layanan Jakarta Siaga melalui nomor 112 untuk melaporkan keadaan darurat di wilayah DKI Jakarta.
(end)

2 hours ago
13

















































