Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang siswa kelas IV berusia 10 tahun di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan tewas tergantung di sebuah dahan pohon cengkeh, Kamis (29/1) pekan lalu.
Korban disebut sempat meminta untuk dibelikan buku tulis dan pena kepada sang ibu sebelum mengakhiri hidupnya.
Berdasarkan pemeriksaan polisi, permintaan itu tidak bisa dipenuhi ibunya. Sebab, tidak memiliki uang yang cukup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari keterangan saksi bernama Gregorius Kodo, keluarga korban menghadapi banyak tantangan hidup. Alhasil, sang anak itu tinggal bersama neneknya.
Dalam pemeriksaan polisi, Ibunda korban, MGT (47) mengaku pada malam sebelum kejadian, korban sempat menginap di rumahnya. Lalu keesokan paginya, sekitar pukul 06.00, MGT meminta tukang ojek untuk mengantarkan korban ke pondok neneknya.
Ibunda korban mengaku pernah memberikan nasihat terakhir agar anaknya tetap rajin bersekolah.
Dari pemeriksaan polisi, ibunda korban mengaku kondisi ekonomi keluarga tergolong terbatas dan menghadapi berbagai kekurangan.
Korban ditemukan meninggal dalam kondisi tergantung di sebuah dahan pohon cengkeh, Kamis (29/1) pekan lalu.
Tempat kejadian perkara itu berada tak jauh dari pondok tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.
Dalam penyelidikan di tempat kejadian perkara (TKP), petugas kepolisian menemukan sebuah surat tulisan tangan yang diduga ditujukan kepada ibunda korban.
Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus Pissort, mengatakan sejauh ini pihaknya menduga surat tulisan tangan itu dibuat korban sebelum mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya.
"Kesimpulan ini berdasarkan hasil pencocokan tulisan dengan beberapa buku tulis yang dimiliki korban. Tim penyidik menemukan kesamaan yang jelas antara tulisan di surat dengan tulisan di buku-buku tersebut," jelas Benediktus Pissort kepada CNNIndonesia.com via aplikasi pesan Whatsapp, Selasa (3/2).
Dalam foto yang dilihat, surat itu ditulis tangan dalam bahasa Ngada.
Dalam surat tersebut, korban meminta ibundanya untuk merelakan dia pergi lebih dulu. Dalam surat itu juga itu ditulis agar ibunda merelakannya--tak perlu menangis, mencari, atau merindukannya.
Pada bagian akhir tulisan tangan tersebut terdapat gambar yang menyerupai emoji dengan wajah menangis.
Dalam pemeriksaan polisi, Gregorius Kodo mengatakan keluarga korban menghadapi banyak tantangan hidup, sehingga bocah itu tinggal bersama neneknya di pondok tersebut.

(dis/kid)

2 hours ago
3
















































