Surabaya, CNN Indonesia --
Raut wajah Iis Kurniawati (42) asal Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim) tak mampu menyembunyikan rasa harunya saat menceritakan kembali pergolakan batin yang dialaminya menjelang berangkat haji 2026 ke Tanah Suci.
Guru Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Malang ini sempat berada di titik nadir, dia nyaris putus asa karena tabungan yang dikumpulkannya bersama sang suami, Achmad Zenurofik (52), tak mencukupi biaya pelunasan haji.
Niat Iis untuk menunaikan haji sebenarnya sudah tertanam sejak lama. Namun realita sebagai guru madrasah dengan gaji pas-pasan, dan suaminya sebagai pedagang warung kelontong, ditambah kebutuhan empat orang anak yang mulai beranjak kuliah, membuat impian itu berkali-kali terbentur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gimana caranya kita untuk mendapatkan uang dari [pekerjaan] PNS guru, dan juga dari dagang itu, kalau dihitung secara logika enggak mungkin. Dana yang kita butuhkan untuk berangkat itu kan juga besar," kata Iis, ditemui di Asrama Haji Embarkasi Sukolilo, Surabaya, Senin (27/4).
Iis akhirnya memulai pada 2012 silam. Ia tergerak oleh motivasi religius di lingkungan madrasah tempatnya mengajar, hingga akhirnya nekat mendaftarkan diri meski kondisi ekonomi saat itu masih sangat terbatas.
Dengan gaji PNS yang kala itu hanya berkisar Rp2 juta, Iis mengandalkan fasilitas dana talangan perbankan untuk mengamankan kursi keberangkatan. Ia akhirnya mendapatkan uang untuk membayar sebagian biaya haji. Sisanya bisa diangsur nanti.
"Kebetulan tahun 2012 itu ada dana talangan haji. Sehingga itu mempermudah kita untuk bisa segera daftar haji. Kita dulu juga ngambil dana talangan haji," kenang Iis.
Harapan Iis sempat melambung tinggi ketika melihat selembar kertas bukti pendaftaran yang mencantumkan tahun 2022 sebagai estimasi keberangkatannya. Namun, mimpi yang sudah dipupuk selama satu dekade itu seketika runtuh saat pandemi Covid-19 melanda.
Pemerintah memutuskan untuk membatalkan pemberangkatan haji akibat corona, membuat jadwal keberangkatnnya tertunda jauh.
"Pada waktu daftar, kita itu tertulis tahun 2022 berangkat. Tapi karena ada corona sehingga mundur tahun 2027," ucapnya.
Penundaan selama lima tahun itu sempat membuatnya pasrah, hingga ia tak lagi memprioritaskan tabungan haji dan mengalihkan seluruh dananya untuk biaya pendidikan anak-anaknya, termasuk biaya kuliah putra sulungnya.
Tapi, Iis tak pernah menyangka bahwa setelah ditunda ke tahun 2027 oleh sistem, ia justru dipanggil satu tahun lebih awal di saat kondisi ekonominya sedang terimpit. Iis pun sempat mengalami guncangan psikis.
"Ketika sama KBIH diberitakan kita berangkat 2026, ya sempat kaget, ya sempat shock karena kita enggak ada dana untuk itu. Padahal saat itu kita enggak ada dana sama sekali. 2025 itu anak saya yang pertama kuliah. Sehingga kita enggak ada dana. 2026 anak saya yang kedua harus kuliah," tuturnya.
Perjuangan berat dirasakan saat masa pelunasan tiba. Selain biaya pokok haji sebesar Rp34 juta per orang, Iis dan suaminya harus menyiapkan dana tambahan untuk paspor, tes kesehatan, manasik, hingga biaya syukuran yang ditaksir mencapai total lebih dari Rp120 juta untuk berdua.
"Pada saat pelunasan itu, kita itu uang enggak ada. Kita berusaha ngumpulkan. Di hari terakhir, pelunasan terakhir itu masih kurang 10 juta. Kita bingung juga harus gimana," kata Iis mengenang masa sulit tersebut.
Di tengah kebuntuan tersebut, bantuan pun datang dari arah yang tak disangka-sangka. Seorang tetangga tiba-tiba menawarkan bantuan uang dengan nominal yang persis sama dengan kekurangan mereka.
"Tiba-tiba ada tetangga yang kita enggak kenal. Dia itu cuma biasanya belanja ke toko kami, enggak begitu akrab. Tiba-tiba datang ke rumah, dia ngasih nasihat-nasihat. Apapun ujiannya orang kalau mau pergi haji, ikhlaskan. Legakno, legowo," ucapnya.
Tetangga tersebut kemudian meminjamkan uang sebesar Rp20 juta yang ternyata merupakan tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit di bawah kasur untuk keberangkatan haji sang tetangga di tahun 2031 mendatang.
"Uang itu loh uangnya masih bau, uang orang desa yang diselempitkan di bawah-bawah kasur itu bau sekali. Kita langsung sujud syukur dan nangis pada saat itu. Saya yakin itu semua memang dari Allah. Dan Allah menolong kita itu ketika kita sudah pasrah, kita ikhlas," ungkap Iis dengan mata berkaca-kaca.
Kini, Iis menyadari bahwa perjalanan menuju Tanah Suci bukan sekadar persoalan kemampuan finansial, melainkan sebuah panggilan Allah. Baginya, keajaiban yang dialaminya adalah buah dari kepasrahan setelah segala upayanya menemui jalan buntu.
"Berarti saya tahun 2026 itu bisa haji. Meskipun secara ekonomi enggak mungkin. Tapi Allah itu berarti tahu kalau saya bisa. Dan mungkin ini memang waktu yang terbaik," pungkasnya.
Kini Iis bisa terbang menuju Tanah Suci. Ia dan suaminya tergabung dalam Kloter 16 Embarkasi Surabaya, bersama ratusan calon jemaah haji asal Malang lainnya.
(frd/dal)
Add
as a preferred source on Google

6 hours ago
10
















































