Sosok Citra, Karateka Cilik Sekolah Rakyat Dikenalkan Prabowo di DPR

7 hours ago 8

Jakarta, CNN Indonesia --

Citra Nur Ramadhani, siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 67 Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, menjadi salah satu siswa yang diperkenalkan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Nusantara II DPR/MPR RI, Jakarta, Jumat (14/8).

Citra hadir dalam sidang tersebut mengenakan baju Bodo khas Sulawesi Selatan. Ia diperkenalkan sebagai salah satu siswa Sekolah Rakyat yang memiliki kisah perjuangan dan prestasi di bidang karate.

"Senang banget, karena barusan ketemu Bapak Presiden," kata Citra seperti diberitakan Antara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Presiden Prabowo menyebut Citra sebagai anak yang hampir putus sekolah karena membantu ibunya berjualan kacang. Ayah Citra telah meninggal dunia ketika ia masih duduk di kelas 2 SD.

Citra kemudian diterima sebagai siswa Sekolah Rakyat dan kembali mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan bakatnya.

Sebelum masuk Sekolah Rakyat, Citra membantu ibunya, Hajrah, yang merupakan orang tua tunggal dan bekerja serabutan, termasuk menjadi buruh cuci harian serta membersihkan masjid.

Citra berjualan kacang secara berkeliling di sejumlah lokasi di Kota Pangkep. Kacang tersebut diperoleh dari tetangga yang memiliki usaha dan kemudian dijual Citra di sekitar taman kota hingga stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Dalam sehari, ia dapat memperoleh omzet sekitar Rp200 ribu.

Wali Asuh SRT 67 Pangkep Maysaroh Abdi Gobel mengatakan Citra berjualan karena ingin membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.

"Citra sebelum di Sekolah Rakyat itu benar-benar berjuang membantu ibunya untuk memenuhi kebutuhan di rumah, karena ibunya orang tua tunggal. Dia bekerja sebagai tukang cuci harian dan menyapu di masjid," ujar Maysaroh.

Menurut Maysaroh, Citra bahkan berjualan hingga malam hari tanpa sepengetahuan ibunya karena merasa perlu membantu keluarga.

Kondisi tersebut membuat Citra hampir meninggalkan sekolah. Namun, setelah diterima di Sekolah Rakyat, ia kembali mengikuti kegiatan belajar dan memperoleh fasilitas pendidikan serta kebutuhan dasar lainnya.

Keseharian Citra di sekolah dimulai sejak subuh dengan beribadah, sarapan, kemudian mengikuti pembelajaran dan kegiatan lainnya.

"Bangun subuh, sholat. Makan pagi. Belajar," kata Citra.

Matematika menjadi salah satu pelajaran yang disukainya. Selain kegiatan akademik, Citra juga mengikuti sejumlah kegiatan ekstrakurikuler, termasuk karate.

Maysaroh mengatakan kemampuan Citra di bidang karate mulai terlihat setelah mengikuti kegiatan tersebut.

"Bakat siswa dikembangkan melalui ekskul-ekskul. Banyak ekskulnya di Sekolah Rakyat kami. Salah satunya karate," ujarnya.

Citra kemudian meraih juara II tingkat Kabupaten Pangkep dalam cabang olahraga karate.

"Senang sekali," kata Citra ketika ditanya mengenai prestasinya.

Maysaroh menilai prestasi tersebut menunjukkan potensi Citra yang dapat berkembang setelah memperoleh kesempatan dan pendampingan.

"Alhamdulillah, setelah di Sekolah Rakyat, Citra sudah mampu berinteraksi dengan baik dan memperlihatkan bakatnya di bidang karate hingga berprestasi," katanya.

Selain karate, Maysaroh mengatakan Citra memiliki semangat belajar yang tinggi dan cepat menghafal.

"Citra cepat sekali menghafal. Dia mau tahu segala hal dan mau belajar. Semangat belajarnya tinggi," ujar Maysaroh.

Perubahan juga terlihat dari kondisi fisik Citra setelah mengikuti program di Sekolah Rakyat. Ia mendapatkan makanan bergizi secara teratur, yakni tiga kali makan dan dua kali makanan ringan setiap hari.

"Yang pertama, ibunya melihat dari bentuk badannya sudah berisi. Sebelumnya dia sangat kurus. Di Sekolah Rakyat dia makan tiga kali sehari dan dapat dua kali snack," tutur Maysaroh.

Dikenalkan Prabowo di DPR

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo kembali menyinggung kisah Citra sebagai bagian dari upaya pemerintah memberikan kesempatan pendidikan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.

"Ketika kelas 4 sekolah dasar, Citra hampir putus sekolah, karena harus membantu ibunya berjualan kacang. Ayahnya telah wafat dan ibunya penyandang disabilitas," kata Presiden Prabowo.

Presiden juga menyinggung prestasi Citra di bidang karate dan mendorongnya untuk terus berprestasi.

"Citra, umurmu berapa Citra? 10 tahun? Ya nanti 10 tahun lagi lah kau boleh pacaran. Citra, kau boleh pacaran setelah sabuk hitam karate mu," ujar Prabowo.

Presiden mengatakan Sekolah Rakyat merupakan bagian dari upaya pemerintah memutus mata rantai kemiskinan melalui pemberian akses pendidikan, tempat tinggal, makanan bergizi, fasilitas belajar, guru, dan lingkungan yang aman bagi anak-anak dari keluarga yang membutuhkan.

"Kami di sini untuk memastikan kamu punya masa depan dan kesempatan yang baik, tidak ada satu pun anak Indonesia yang kita tinggalkan," kata Prabowo.

Bagi Citra, pertemuan dengan Presiden menjadi pengalaman yang berkesan. Ia juga menyampaikan keinginannya untuk terus berlatih karate hingga meraih sabuk hitam.

"Pak Presiden sehat-sehat ya. Tunggu saya dewasa nanti pakai sabuk hitam," kata Citra.

(van/dmi)

placeholder

Read Entire Article
Infrastruktur | | | |